Ku Titip hidupku,
Pada
mimpi-mimpiku
Kata orang “generasi muda” adalah generasi penerus bangsa, tapi itu semua tidak berlaku bagiku. Aku mempunyai mimpi-mimpi besar yang lebih baik untuk bangsa ini. Mungkin sekarang aku hanya benalu jalanan yang belum mendapatkan kesempatan, tapi aku yakin kelak aku akan merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik, Inilah mimpiku!“anak-anak..... bangun! keluar, jangan malas! Hari sudah siang” (sambil menggedor-gedor pintu rumah kami)
“Ia bang.... tunggu....” sahut kami semua.
Dan ketika puntu terbuka, inilah dia pemimpin otoriter kami semua. Dengan badan kekar penuh tato dan terlihat tidak terurus. Segera kami di angkut dengan mobil pickup usang berwarna hitam menuju ricuhnya ibu kota. Sesampainya disana kami semua selalu terengah-engah dengan hiruk pikuk perkotaan dan harus bersiap-siapdengan senjata kami masing-masing.
“ayo cepat turun anak-anak....”
“kalian harus menyetor setoran yang lebih banyak hari ini” perintah bang joni.
Serentakpun kami semua turun dan mulai membaur dengan klakson-klakson yang bergemuruh. Hanya dengan bermodalkan suara serak dan beberapa tutup botol yang kami satukan di sebatang kayu usang, kami mengharapkan banyak dari pendengar setia kami untuk memberi upah dari hasil kerja kami.
Hari semakin panas, peluhpun menetes dengan derasnya. Aku selalu bertanya. . . kapan semua ini akan berakhir? Aku masih mempunyai mimpi besar! Bukan hanya bergelut di rutinitas ini dan hanya memenuhi kantong bang joni. Sempat beberapa kali aku merencanakan pelarian diri bersama tiga temanku lainnya yaitu seli, hisan, dan rere.
Hingga suatu saat, dengan bermodalkan uang yang kami sisihkan dari setoran yang harus aku dan kawan-kawanku setor ke bang joni. Saat itu hari sudah semakin gelap, sebelum kami di angkut dan dikembalikan ke lapak sana. Kami berempat berencana untuk melarikan diri.
“ton apa kamu yakin dengan semua ini” cemas rere.
“ia ton, terus entar malem dimana kita harus tidur”
“Ia betul-betul”. Kata-kata itu terus didengungkan teman-temanku, tapi itu semua tidak menyulutkan semangatku untuk kelur dari cengkraman perbudakan bang joni.
“sudah, sudah. . . apa kalian masih mau terus-menerus kerja dengan bang joni sampai kalian mati?” sahutku.
“apa kalian tidak mempunyai mimpi-mimpi yang ingin kalian wujudkan?”
Serentak mereka terdiam dan terlihat membayangkan mimpi-mimpi mereka. “ayo cepat kalo kelamaan kita bisa dilihat bang joni”, bujukku. Mereka terdiam dan sedikit mengangguk, kami berempat kemudian lari menuju gang kecil dan sempit berlari dengan cepat. Setelah lama berlari kamipun terhenti dengan teriakan seli, “tunggu... apa kita tidak bisa istirahat dulu, aku capek banget apalagi belum makan dari tadi siang”. Kamipun beristirahat sejenak, namun aku pergi sebentar.
“aku mau pipis dulu ya... kalian jangan kemana-mana”, pintaku. Namun tentu saja bukan itu yang ingin kulakukan, tidak mungkin aku membiarkan teman-temanku mati kelaparan dan kedinginan malam ini, secara tidak langsung akulah yang membujuk mereka untuk kabur.
“kemana anton kenapa lama sekali dia pipis”
“apa dia di tangkap bang joni”
“apa mungkin dia meninggalkan kita”
Keluhan-keluhan seperti itu sempat ku dengar ketika aku menghampiri mereka. “maaf ya... aku baru kembali” belaku. “hampir sejam kamu pergi, kemana saja kamu?” kesal hisan
“maaf tadi aku mencari makanan dan tempat untuk kita tinggal sementara”ayo makan dulu roti ini, hanya ini yang mampu aku dapatkan. Dan ayo cepat kita ke tempat yang aku temukan untuk beristirahat malam ini.
Setelah semua roti habis mereka lahap, kami semua bergegas menuju tempat yang aku temukan. Sesampainya di sana kami bertemu dengan bang rey (pemuda baik yang memberikan aku roti dan mempersilahkan kami tinggal sementara di tempatnya). Bang rey lah yang membantuku ketika aku dikepung oleh pemuda-pemuda yang sedang mabuk-mabukan di emperan toko ketika mencari makanan. Dan di sanalah kami melepas lelah dengan nyenyak untuk malam itu.
Keesokan harinya, entah mimpi atau masih terngiang di telingaku, aku mendengar samar-samar suara bang joni sedang berbicaradi luar. Akupun terbangun dan mengintip dari celah-celah papan rumah itu. Betapa terkejutnya aku melihat bang joni dengan bang rey sedang bercakap-cakap dengan akrabnya. Akupun segera membangunkan ke tiga temanku, dan bergegas keluar dari pintu belakang, karena aku curiga jikalau bang rey akan mengembalikan kami ke bang joni.
Beberapa saat kemudian suara teriakan memanggil kami samar-samar dari arah rumah bang rey. Benar apa firasatku mereka pasti saling kenal dan bang rey akan mengembalikan kami kecengkraman bang joni lagi, bodoh kemarin kami menceritakan semua yang kami alami ke bang rey, pikirku dalam hati. Lama setelah kami lari dari rumah bang ray kami beristirahat dan memikirkan akan kemana kami sekarang. Namun seli, hisan, dan rere mulai mengeluh akan tindakan kami ini. Mereka mulai lelah terus-menerus lari dari kejaran bang joni. Akupun mulai termenung dan bertanya pada diriku sendiri, apa salah aku merencanakan pelarian ini? Tapi tetap saja aku tidak ingin kembali menjadi alat pencari uang untuk bang joni.
Berhari-hari kami mengandalkan kemampuan bernyanyi kami untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, tidurpun kami di emperan pertokoan. Akan tetapi ternyata hisan dan teman-teman lain sudah mulai bosan berjalan tanpa arah seperti ini, mereka malah sudah tidak percaya dengan mimpi-mimpi mereka apa akan dapat terwujud.
Hingga suatu hari ketika kami sedang mengamen di lampu merah, tidak ku sangka-sangka suara yang sangat kukenal memanggilku namaku sambil memegan pundakku. “ton, sudah cukup lama kau lari dari rumah”. Aku pun menengok dan memang benar, sosok yang paling kami takuti berada tepat dibelakangku. Takku sangka dia bisa menemukan kami setelah sejauh ini kami pergi, namun akupun tercengan dengan sesosok anak yang sangatku kenal berdiri di belakang bang joni. Tak kusangka hisanlah yang memberitahu bang joni tempat keberadaan kami.
“kenapa? Kenapa kamu berhianat san?” teriakku
“aku sudah bosan mengikutimu ton, aku sudah bosan dengan bualan-bualanmu tentang mimpi-mimpimu itu” sahut hisan.
Dan akhirnya kami berempatpun dinaikkan ke mobil yang selalu mengantar kami tiap pagi itu dengan pengawasan anak buah bang joni. Kekesalan ku terhadap hisan tidak pernah hilang selama perjalanan, namun pikiranku terbayang apa yang akan dilakukan bang joni setelah kami tiba di rumah itu lagi. Tapi aku terheran-heran kenapa bang joni yang biasanya begitu keras, kali ini tidak sampai hati untuk memukul kami. Walau nada bicaranya agak keras dan sedikit memaksa, tetapi tetap saja ada suatu kejanggalan yang aku rasakan.
Dalam perjalanan begitu banyak hal yang aku pikirkan, dan ketika mobil kami melewati jalanan yang sisi kanan dan kirinya di penuhi dengan ilalang dan semak belukar. Mulailah terbersik di benakku untuk melompat dari mobil pickup ini, walau rasa takut menghampiriku karena mobil itu melaju dengan cukup kencang. Tetapi tekatku masih kuat, aku tidak ingin kembali ke masa-masa suram seperti dulu lagi.
Dan ketika mobil mulai agak melamban, dan anak buah bang joni sedang termenung melihat kearah depan. Seketika aku yang sudah membulatkan tekat melompat ke arah rumput ilalang, sesaat setelah aku terguling di hamparan ilalang dan semak belukar, tanpa menghiraukan sakit dan luka di tubuhku dengan sekuat tenaga aku berlari menjauh dari mobil itu.
Dari kejauhan dari arah mobil bang joni, aku mendengan teriakan memanggil-manggil namaku, namun tak kuhiraukan hanya lari yang bisa aku lakukan saat itu. Setelah kurasa aman aku beristirahat di bawah pohon rindang, lalu aku memanjat pohon tersebut dan melihat apakan bang joni dan anak buahnya masih mengejarku. Untung saja sudah tidak terlihat lagi tanda-tanda mereka, dan dari sana aku pun melihat ada sebuah rumah di kejauhan. Aneh benar di tempat yang jauh dari pemukiman warga ada sebuah rumah, pikirku. Dengan terengah-engah akhirnya aku sampai di depan rumah itu, entah kenapa aku mengintip ke dalam rumah itu, anehnya rumah itu terlihat seperti masih dihuni seseorang namun tak terlihat satupun penghuni di dalamnya. Aku membranikan diri untuk masuk dan beristirahat sejenak di sana.
Tak lama kemudian aku terbangun, dan terkejut dengan luka-lukaku yang sudah bersih dan terobati. Dan makanan pun tersedia di meja dekat tempatku berbaring, tanpa waktu yang lama aku makan makanan itu, mungkin karena aku yang belum makan dari pagi.
“cetak... cetak....”, samar-samar terdengar suara kapak membelah kayu di belakang rumah itu. Akupun keluar dan melihat pria paruh baya sedang membelah kayu-kayu gelondongan. “sudah bangun nak?” tanya pria paruh baya itu dengan senyum simpulnya kearahku. “siapa namamu?”. Akupun terdiam memandangi sosok pria yang tinggi, dengan badan yang kekar dan kumis dan jambang di wajahnya, sedikit menakutkan memang tapi cara berbicaranya menandakan dia orang baik.
“he... kenapa diam?”, kata pria itu
“oh.... ia namaku anton, maaf ya saya masuk rumah bapak tanpa permisi ”, kataku
“ia tidak papa, kenapa badanmu penuh luka dan bisa sampai ke tempat ini?”, tanyanya lagi
Namun aku tetap terdiam, aku takut apa yang terjadi dengan bang rey terulang kembali. “ia tidak apa-apa kalau tidak ingn cerita dulu”, hibur pria itu. Entah kenapa aku merasa pria itu sungguh baik, akupun di persilahkan untuk tinggal lebih lama di rumahnya tersebut. Selama beberapa menit kami terlibat pembicaraan saling mengenal, tanpa harus membicarakan kehidupanku bersama bang joni.
Selama tinggal disana, aku selalu membantu pak jiono untuk mencari dan membelah kayu. Aku yang dulu sempat diajarkan membaca dan menulis oleh pemuda yang prihatin dengan kami para pengamen jalanan, kembali mendapatkan pengajaran dari pak jiono dan tak kusangka pak jiono begitu pintar mengajar layaknya seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Aku yang apabila bersekolah seperti anak-anak biasa seharusnya sudah menginjak kelas 5 sekolah dasar apa bila melihat umurku kini, namun apa daya aku tak seberuntung anak-anak lain, aku hanya bermodalkan kenekatan dan mimpi-mimpiku.
Setelah beberapa minggu aku bersama pak jiono, bliau mengajakku untuk pergi desa terdekat. Tak ku sangka-sangka beliau mendaftarkan aku untuk masuk sekolah dasar, betapa bahagianya aku melihat kebaikan pak jiono. Akupun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang aku peroleh ini dengan kerja keras, akupun yang dalam 2 bulan percobaan menunjukkan perkembangan yang luar biasa dan akupun direkomendasiakan untuk berada di tingkat kelas sesuai dengan kemampuanku.
Namun aku hanya bisa mendapatkan rekomendasi untuk berada di kelas 4, dengan buku yang ku pinjam dan berkat ajaran dan didikan dari pak jiono akupun dapat menyelesaikan sekolahku dengan hasil yang memuaskan. Akupun menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolahku dengan prestasi-prestasiku itu aku mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan studiku, namun untuk itu aku harus pergi ke tanah kalimantan sana. Dan atas ijin dan restu dari pak jiono akupun menerima tawaran untuk menerima beasiswa tersebut. Dan inilah awal dari mimpi-mimpiku akan terwujud, tak akan ku sia-siakan kesempatan besarku ini.
* * *
Smd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar